English Pioneer Application, media belajar interaktif berbasis Google Slide

11 Dec 2020 | Inovasi Media Ajar dari Deyanatri Widanti, S.E, SMPI Binakheir School, Depok

Have Fun dengan English Pioneer Application Beragamnya latar belakang karakter, pekerjaan dan ekonomi orang tua murid maka beragam pula kendala yang dialami murid saat BDR, seperti kendala jaringan internet, perangkat yang tidak bagus, minim pendampingan orang tua, perasaan jenuh, takut bertanya, tidak bisa ikut pelajaran karena bergantian memakai laptop, handphone jadul, dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi semangat belajar murid saat BDR, yang mengalami penurunan hampir di setiap mata pelajaran, jika dibandingkan saat belajar tatap muka. Ditambah lagi pelajaran saya, Bahasa Inggris, adalah pelajaran yang biasanya tidak disukai murid, sehingga pola pikir ini sering mempengaruhi semangat belajar mereka saat di rumah. Dari hasil diskusi saya dengan murid, mereka mengungkapkan perasaannya antara lain kejenuhan saat menyimak penjelasan materi dari guru saat Zoom Meeting maupun hanya menonton video dan mengerjakan soal di WA group. Mereka pun lebih senang menghabiskan waktu berselancar dengan gadgetnya daripada menyelesaikan tugas-tugasnya. Setelah mengikuti pelatihan merancang media ajar di WIT2020, saya baru memahami pentingnya berempati. Saya mencoba menjadi diri mereka, membayangkan apa yang membuat mereka jenuh saat sekolah online namun lebih tertarik berselancar dengan gadgetnya daripada belajar, padahal sama-sama online. Ternyata murid butuh aktivitas yang melibatkan diri mereka ke dalam proses belajar online, baik sinkronus dan asinkronus. Inilah tantangan saya sebagai guru Bahasa Inggris yang berharap agar murid saya kembali antusias belajar walau di rumah saja dan tanpa pendampingan. Suatu hari saya mendapat inspirasi dari rekan guru di Komunitas Guru Belajar, yang menggunakan platform Google Slide sebagai media ajar yang diberikan saat BDR. Kemudian saya pelajari selama berhari-hari dari channel Youtube tentang Google Slide. Ternyata banyak sekali inspirasi yang saya dapat dari channel Youtube. Yang paling menarik dari tantangan merancang media ajar adalah saya menghabiskan me time saya untuk berselancar di Youtube setiap malam. Namun saya melakukannya dengan senang hati dan semangat. Dengan metode ATM, maka saya amati, tiru dan modifikasi dengan ide-ide yang ada dalam pikiran saya, hingga akhirnya jadilah English Pioneer Application versi saya. Nama Pioneer diambil dari judul buku Bahasa Inggris yang dipakai di sekolah. Tujuan aplikasi ini adalah sebagai media belajar siswa saat PJJ online secara sinkronus dan asinkronus yang melibatkan siswa secara interaktif dengan minim pendampingan orang tua dan guru di rumah. Dengan Google Slide yang terhubung dengan beberapa aplikasi/platform lain seperti video Youtube, games, Quizziz, audio, link website ESL, Jamboard, Puzzle dan Infographic, diharapkan siswa tergerak dan antusias untuk mengeksplorasi sendiri semua link yang tersedia di dalamnya sehingga semangat belajar bangkit kembali. Namun ada tantangan lain yaitu murid yang tidak paham bahasa Inggris tentu akan merasa sulit sekali memahami instruksi sebelum melakukan aktivitas. Dan ada beberapa murid yang malas membaca instruksi kemudian sering melewati bagian ini langsung ke bagian lain yang lebih menarik. Maka saya ciptakan audio pada aplikasi ini dengan 2 bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pada awalnya saya bersikeras menggunakan audio dalam bahasa Inggris saja, namun setelah belajar berempati dengan masalah yang murid hadapi maka saya putuskan untuk membuat audio dalam bilingual. Saat jadwal Zoom Meeting saya menyampaikan cara penggunaan English Pioneer Application ini kepada siswa. Mereka tertarik karena ini adalah hal baru untuk mereka. Dan saat pertemuan lewat WA group, mereka pun dapat melakukannya sendiri tanpa pengarahan kembali, hanya melanjutkan tahap berikutnya. Di aplikasi ini ada beberapa aktivitas yang harus diselesaikan. Dalam aktivitas tersebut murid akan mengeksplorasi ikon-ikon yang ada. Ada video materi, permainan Quizziz, Wordwall, instruksi dalam bentuk audio, infografis, diskusi lewat Jamboard, games via website ESL, dan Puzzle Game. Murid diminta mengerjakan aktivitas 1 dan 2 dalam 1 sesi pertemuan, lalu mengisi form ketuntasan aktivitas serta daftar hadir saat itu, dalam bentuk Spreadsheet. Di akhir materi ada infografis dan review serta refleksi diri. Sebagai bentuk apresiasi terhadap murid, saya juga menambahkan kata-kata apresiasi karena telah menyelesaikan materi dengan baik di setiap akhir aktivitas. Bagian paling seru dari aplikasi ini tentunya adalah games, Quzziz, Wordwall, dan puzzle karena mereka bisa berinteraksi sambil belajar, bermain sekaligus berkompetisi dengan teman-teman lain secara online. Dan yang paling greget buat mereka adalah saat klik ikon- ikon yang ada, kadang susah meng-kliknya sehingga mereka gregetan antara antusias dan kesal karena sulit, serta sinyal yang tidak stabil sehingga mengganggu konsentrasi atau kesenangan. Perubahan yang saya amati setelah menggunakan aplikasi ini di kelas online adalah siswa jadi lebih aktif bertanya tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya setelah bagian A, B, C, dst. Serta tingkat kehadiran siswa di Zoom Meeting dan antusiasme untuk berpartisipasi aktif juga meningkat saat mereka terlibat langsung menggunakan aplikasi tersebut. Dan pengalaman yang paling berkesan saat menggunakan aplikasi tersebut adalah saat kami memainkan Puzzle bersama, di awal permainan mereka dapat bekerjasama dengan baik, namun di permainan berikutnya mulai ada yang mengacaukan permainan, yah mereka ingin menghibur diri dan teman-teman yang lain saja sepertinya. Pengalaman menarik lainnya saat saya menambahkan gamification saat Formative Test bertema game online Among Us, suasana menjadi lebih heboh karena kaget dan antusias dengan Among Us versi saya. “Seru, ms…!” kata mereka, jadi suasana Formative Test Lebih menyenangkan dari biasanya. Murid pun jadi lebih antusias saat ada penambahan platform baru lainnya ke dalam aplikasi tersebut. Mereka jadi lebih aktif bertanya atau penasaran lebih tepatnya, mengenai cara memainkan/ menggunakannya dibandingkan mengisinya, karena pada prinsipnya konsepnya sederhana namun cara penyampaiannya yang membuat mereka antusias. Berdasarkan masukan, kritik dan saran dari angket yang murid isi saat online, pada umumnya mereka menyukai aplikasi ini. Mereka menyukai hal-hal yang baru, mereka jadi belajar hal-hal yang baru, tampilan yang menarik, serta senang bisa berinteraksi satu sama lain. Maka rencana pengembangan selanjutnya adalah penambahan secara bertahap platform interaktif lainnya yang dihubungkan ke English Pioneer Application, seperti Podcast, listening music, gamification, Nearpod, Wakelet sebagai bagian dari materi dan dokumentasi hasil kerja siswa. Semoga aplikasi ini terus bermanfaat, baik saat pembelajaran online maupun tatap muka dan dapat diaplikasikan untuk mata pelajaran lain. Semangat berkarya, berbagi dan menginspirasi negri untukmu para Guru!