Media Peraga Interaktif Huruf Hijaiyah untuk memudahkan murid belajar Alquran

11 Dec 2020 | Inovasi Media Ajar dari Nina Rohmaniah, S.Pd.I, MTs Alfurqon Kadudampit

MEDIA PERAGA INTERAKTIF HURUF HIJAIYAH UNTUK MEMUDAHKAN MURID BELAJAR AL-QUR’AN Oleh: Nina Rohmaniah Saya guru Akidah Akhlak di MTs Alfurqon kadudampit. saya mengajar mata pelajaran yang erat kaitannya dengan Alqur’an. Karena Alquran adalah pedoman hidup seorang muslim, maka Madrasah mewajibkan muridnya bisa membaca alquran. Tujuan kami mengajar Alquran agar murid bisa membaca Alqur’an dengan lancar dan benar. Tetapi di sekolah yang saya hadapi anak yang beragam. Beragam latar belakang, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya sehingga beragam juga daya tangkap belajarnya. Karena beragam daya tangkap belajarnya, banyak yang tidak bisa baca alquran. kadang mengajari murid membaca Alquran tidak mudah bahkan huruf hijaiyahpun ada yang belum bisa sama sekali. Ketika mendampingi murid yang tidak tahu huruf hijaiyah ini saya harus telaten dan mencoba menggunakan media belajar. Media ajar yang saya gunakan adalah Alat Peraga Interaktif Huruf Hijaiyah. Tujuan penggunaan alat peraga ini agar murid saya bisa membaca alquran serta tidak merasa keberatan belajar, dan ketika mereka bisa membaca Alquran, mengajak temannya agar bisa membaca dan ikut untuk belajar alquran juga. Informai belajar dengan media alat peraga ini harus disebarkan dengan tujuan agar guru yang punya masalah yang sama bisa belajar dari pengalaman saya untuk meniru atau justru berinovasi sendiri agar tujuan belajar tercapai. Kondisi saat ini sedang pandemi dimana bertemu dengan murid sangat terbatas, baik terbatas waktu maupun terbatas materi pelajaran. Oleh karena itu saya sebagai guru harus selalu berkomunikasi dengan orang tua/wali agar murid saya itu belajar di rumahnya. Tidak mudah belajar pada masa pandemi sekarang ini semua serba terbatas tetapi akan ada banyak cara untuk menembus batas seperti guru berkunjung kepada murid (guru kunjung), menggunakan media yang tersedia seperti whatsapp, facebook dan zoom. Sebagai guru akidah Akhlak yang erat kaitannya dengan Alqur’an saya harus selalu meningkatkan kemampuan pedagogik, kemampuan teknologi, kemampuan psikologi, kemampuan komunikasi dan kemampuan lainnya karena sekarang cara belajar sudah berubah bukan lagi tradisional tetapi sudah modern. Pendidikan hari ini di pacu oleh tantangan menghadapi era baru yakni era teknologi 4.0. dimana semua hal yang berkaitan dengan kehidupan sudah dipermudah dengan penggunaan teknologi. Apakah itu belanja barang, makanan, pulsa, bayar toll, tranfer uang atau belajar. Dalam dunia pendidikan sendiri hari ini dihadapkan kepada pilihan yang tidak bisa memilih. Semua murid dan guru harus belajar dari rumah. Work from home ini sangat menantang karena pekerjaan ini sangat erat kaitannya dengan teknologi. Bagaimana saya awalnya tidak kenal zoom, google meet, cisco webex, microsoft office dan lainnya itu justru sekarang jadi makanan sehari-hari yang tidak bisa dihindari. Saya harus menunutut diri sendiri untuk selalu belajar belajar dan belajar. Bagaimana saya belajar office 365, microsoft team, kahoot, padlet atau berbagai perangkat lain. Tantangan berikutnya adalah gurunya banyak belajar sedang keadaan murid sebagian memprihatinkan. tidak semua murid punya handphone yang memadai untuk belajar. Ada handphone tapi tidak ada pulsa atau bahkan tidak punya samasekali dan daerah yang blanksport yang menyebabkan belajar tidak mudah. Kemudian tantangan berikutnya guru di hadapkan kepada karakter murid yang beragam. Beragam gaya belajar, cara menerima materi pelajaran dan cara komunikasi. Ketika murid belajar huruf hijaiyah tantangannya mereka hanya belajar dengan whatsapp dan tidak belajar dirumahnya buktinya mereka tidak bisa membaca huruf hijaiyah selain itu orang tua yang sibuk bekerja, handphone hanya satu dan di bawa orangtua. Murid hanya bisa belajar malam hari ketika orangtua pulang kerja. Hal ini menyebabkan murid tidak belajar optimal di rumahnya dan tidak ada bimbingan orangtua karena cape sehabis bekerja. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan tidak hanya oleh pihak sekolah, seperti pendidik dan tenaga kependidikan, namun keberadaan masyarakat dan orangtua peserta didik harus ikut mewujudkan pencapaian pendidikan yang lebih baik. Peran masyarakat dan orangtua tidak hanya dilakukan dengan dukungan yang bersifat materi, namun juga pemikiran, motivasi, serta kerjasama yang terus berjalan untuk kemajuan murid. Peran serta tersebut ditujukan untuk membangun kerjasama yang baik antar pihak untuk mencapai pendidikan yang mampu meningkatkan daya saing belajar. Oleh karena itu, pihak-pihak yang dimaksud, seperti guru dan orangtua peserta didik harus terjalin dengan baik untuk meningkatkan peran serta yang diharapkan. Lingkungan mayarakat di sekitar MTs alfurqon sendiri selain selalu bekerjasama dengan pihak Sekolah, mereka juga tergolong agamis dan selalu mendukung kegiatan sekolah. Masyarakat di sekitar MTs Alfurqon ini sering ikut terlibat dalam kegiatan pengembangan pendidikan. Salah satunya adalah tersedianya pondok pesantren di lingkungan Sekolah dan menerima murid untuk mondok di asrama dan membantu murid mendalami ilmu agama. Sebagian orang tua murid sering menitipkan anaknya ke pesantren untuk mengkaji ilmu agama dan belajar Alqur’an dan pagi harinya sekolah. Kalau tidak ke pesantren, orang tua menitipkan anaknya untuk mengaji Alqur’an ke guru ngaji di sekitar rumah mereka. Pendidikan alquran ini sangat penting sekali bagi masyarakat untuk memahami agama yang benar karena sumber ajaran agama Islam adalah Alquran. Sejak dini murid di ajari membaca Alquran. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua murid bisa dengan cepat belajar Alquran. Hal ini tentu menjadi tantangan orang tua dalam mengajari anaknya dalam membaca Alquran. Ketika murid ini masuk ke Madrasah tsanawiyah ternyata masih tidak bisa membaca Alquran. Bagi guru ini merupakan tantangan tersendiri bagaimana caranya mengajari murid membaca Alquran. Dalam praktik pembelajaran dibutuhkan media agar murid mudah mencerna huruf hijaiyah sebagai awal murid mengenal Alquran. Dalam hal ini saya memilih media peraga Interaktif pengenalan huruf hijaiyah. Alasannya karena bahan yang di gunakan mudah di dapatkan di sekitar rumah murid dan tidak perlu menggunakan internet. Penggunaan Media Peraga Interaktif ini harus menarik murid. Bagaimana caranya? Ya harus pakai strategi. Penggunaan media ini dibuat seperti mainan dengan bahan-bahan seperti kardus bekas, kertas warna, cat, spidol, gunting, lem, penggaris. Huruf Hijaiyahnya di buat dulu di atas kertas putih atau kertas karton sebelum di tempel di kardus bekas agar ketika di potong bentuknya sama lalu kardusnya di potong-potong. Setelah semua selesai saya memberi contoh membaca huruf hijaiyyah lalu membimbing siswa malafalkan huruf alif – ya’. Kemudian meminta siswa maju kedepan untuk mengambil potongan huruf hijiyah secara acak yang sudah disiapkan di dalam kardus, mengangkatnya dan menyebutkan hurufnya kemudian agar mereka mengingatnya mereka mengasosiasikan dengan benda, barang, binatang yang mereka tahu. Kemudian meminta siswa secara acak melafalkan huruf hijaiyyah bersambung. Kegiatan ini dilakukan berulang-ulang dalam satu pertemuan. Tidak cukup dengan Media FlasCard, lalu di buatlah puzle untuk di jadikan bahan mainan sambil menyebutkan saru persatu huruf hijaiyah ini. Kemudian murid dikenalkan juga dengan pohon huruf hijaiyah agar semakin beragam dan tidak bosan belajar huruf hijaiyahnya. Pelajaran ini di ulang-ulang sampai tiga kali untuk memastikan murid mengerti, faham dan mencerna nama huruf supaya murid ingat huruf hijaiyah. Setelah itu dilanjutkan berdiskusi bagaimana rasanya murid belajar sambil bermain? Murid saya senangnya bukan main belajar sambil bermain. Murid menganggap belajar Baca tulis alquran itu dianggap bermain jadi seru. Bahkan mereka belajar sambil tertawa dan berebut alat peraga. Yang lebih penting dari itu semua adalah murid lebih cepat faham huruf hijaiyah. Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada murid dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Dalam metode active learning (belajar aktif) materi pelajaran Baca tulis Alquran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya atau benda, binatang atau hal lainnya yang sekiranya siswa mudah ingat. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna belajar makin seru dan materi tersampaikan dengan baik, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar alquran. Respon murid terhadap Materi Baca Tulis Alquran itu menyenangkan dan materinya cepat tertangkap jadi tidak terlalu sulit seperti yang dibayangkan sebelumnya. Murid saya juga akhirnya memberi masukan untuk menambah media alat peraga interaktif lagi agar bervariasi. Dalam nenanggapi respon tentu saya sebagai guru merasa bersemangat menghadapi murid yang semangat. Kemudian saya meminta masukan dari murid apa yang dirasa kurang, apa yang perlu di perbaiki, media peraganya seperti apa bentuknya, bisa tidak membuatnya kerjasama, alatnya apa saja yang perlu disediakan, dimana belinya, atau kalau barang bekas apakah mereka siap membantu membawa dari rumahnya. Subhanalloh…saya merasa seperti terlahir ke dunia baru dengan berbagai pelatihan yang tersaji dari WIT sehingga saya bisa menghasilkan alat peraga interaktif yang sederhana dan menginspirasi untuk memudahkan murid dalam belajar. Pelajaran yang saya dapatkan dengan menggunakan media alat peraga ini adalah telah memudahkan gaya belajar saya dan siswa. Media alat peraga interaktif ini akan di adopsi kedalam materi-materi yang lain pada mata pelajaran akidah akhlak dan Alquran atau mungkin pelajaran yang lain dan semoga guru lain ada yang berminat untuk mengikuti cara baru saya. Startegi yang saya buat ini baru dan telah membuka cakrawala berfikir saya yang stagnan. Dulu saya merasa bosan dengan cara mengajar sehingga sering berfikir bagaimana cara saya agar berubah dalam mengajar. Ternyata jawabannya sekarang dengan pelatihan di WIT. Ini jawaban yang Alloh swt berikan kepada saya. Pengalaman belajar dengan media peraga interaktif sederhana ini telah membuat saya dan murid saya bahagia. Belajar lebih mudah, cepat mengerti dan seru. Media peraga interaktif ini sudah memberikan kesan sangat kuat untuk ingatan murid dengan dibuktikan besoknya tidak lupa jenis huruf apa yang kemarin di sebutkan itu. Saya akan membuat dan mengembangkan media yang saya buat karena media ini memudahkan murid belajar membaca Alquran. Ada banyak materi-materi lain yang perlu dibuatkan media peraganya. Alat Peraga Interaktif ini telah menginspirasi saya untuk berubah dan mengubah strategi saya dalam mengajar dan agar murid saya semangat dalam belajar.