Amazing Learning Journey

11 Dec 2020 | Inovasi Media Ajar dari Elvrida Rosalia Indraswari, SD School of Life Lebah Putih

Bill Gates pernah berkata, “Teknologi hanyalah alat. Namun, untuk menjadikan anak-anak bisa saling bekerjasama dan termotivasi, guru adalah yang paling penting.” Kalimat ini mengantarkan saya ke arah dimana seorang guru, baik itu guru “seorang kakak fasilitator kelas” maupun guru “dalam lingkup yang lebih luas” adalah seseorang sutradara atas berjalannya suatu pembelajaran bermakna. Pandemi ini masih terus berjalan menjadi sebuah jurnal perjalanan yang tanpa terasa berjalan 8 bulan sudah. Meskipun demikian, semangat belajar harus tetap berkobar. Berbicara tentang sebuah perjalanan, sering kali terucap kalimat, “Kak Rosa, kapan Learning Journey-nya? dari murid Cirro Cumulus atau kelas 6 SD ini. Awalnya saya hanya menanggapinya biasa saja, sekadar jawaban bahwa setelah pandemi akan berakhir. Setelah seringnya terucap, saya sadari bahwa hal tersebut merupakan ungkapan emosional seorang murid yang sudah rindu dengan sekolah dan kegiatan Learning Journey. Beberapa murid Cirro Cumulus menyukai berpendapat lewat voice note maupun berpendapat langsung lewat zoom, beberapa lainnya suka dalam mengetik WA, sementara lainnya masih malu-malu. Kebetulan minggu ini kami sampai di topik bahasan tentang Cintai Produk Indonesia. Wah sepertinya kerinduan murid akan Learning Journey akan terobati nih!. Pertama yang saya lakukan untuk persiapan pengajaran tentunya adalah lesson plan dari sebuah Virtual Learning Journey ini. Ketika sudah berada di Langkah awal lesson plan dan menjumpai kata “murid”, saya teringat akan cukup sulitnya murid tergelitik pada sepanjang proses pembelajaran. Sekejap semangat, sekejap pula padam. Saya jadi teringat akan umpan balik yang pernah saya berikan di akhir berupa apresiasi, betapa berbinarnya murid Cirro Cumulus. Mengapa tidak saya berikan umpan balik di sepanjang berjalannya sesi? Wah apalagi topik kami kali ini tentang Produk Indonesia yang dikemas dalam sebuah perjalanan. Oke, saya begitu terbayang. Sekolah kami berdiri di kota kaki Gunung merbabu, ya Salatiga. Bagaimana jika kami mengulik kota atau kabupaten yang masih cukup dekat dengan Salatiga? Sebelumnya saya mengobrol di pagi hari sekadar untuk menyapa dan saling mengingatkan untuk sarapan. Di sela-sela obrolan tersebut saya bercerita tentang salah seorang kakak fasilitator yang rumahnya daerah Ambarawa. “Oh, kak Arum rumahnya Ambarawa ya. Dulu kelas Cirrus juga pernah kak backpacker ke Ambarawa. Pengen juga sih.” Ucap salah satu murid. Oke, satu pilihan dapat, sampai akhirnya obrolan kami menghasilkan kesepakatan tiga kota tujuan, Jepara, Ambarawa, dan Tegal. Ada satu hal juga yang saya sadari ketika obrolan ini berlangsung. Ya, sebagian murid Cirro Cumulus suka diapresiasi secara langsung pada wall grup namun, beberapa lainnya lebih nyaman diapresiasi lewat pesan pribadi. Murid memang menyimpan sejuta hal yang sangat menarik untuk digali. Saat tiga kota tujuan sudah didapatkan, saya mengajak murid-murid untuk voting mana dulu kota yang ingin kita kunjungi dengan mentimeter, umpan balik kedua sudah berjalan. Saya mulai mempersiapkan alur perjalanan, konten yang ada pada setiap basecamp kota, platform, dan hal-hal lain yang dibutuhkan. Menantang, saya harus mengatur basecamp sedemikian rupa agar suasana Kota Ambarawa, Jepara dan Tegal seakan nyata, mulai dari pemilihan video dan gambar yang dipakai hingga sound pendukung dan apa saja yang akan saya tunjukkan untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Meskipun melalui platform Whatsapp tapi saya yakin ini akan seru! Tantangan lain yang saya mesti siap menghadapinya juga adalah bagaimana saya mengatur alur saat murid masuk secara bebrbarengan atau tidak. Bagaimana keseruan Virtual Learning Journey kami? Let’s Go! Keseruan kami tentunya kami mulai dari titik pertama, yaps! dari sekolah. Meskipun secara virtual lewat whatsapp ada yang tidak pernah hilang lho. Nah, bel ketika kegiatan sekolah akan dimulai biasanya kami memutar lagu Play A Live dari Safri Duo, pun kali ini. Pada titik pertama ini kami membahas kesepakatan-kesepakatan apa saja selama kami melakukan perjalanan virtual kami kali ini. Oh ya, tak lupa pula bekal yang sudah masing-masing siapkan untuk di basecamp terakhir, teh hangat atau es teh. Sesudah saya dan murid-murid bersepakat, saya share basecamp tujuan pertama yang sudah dipilih beberapa hari lalu, Kabupaten Ambarawa. Selamat datang di Kabupaten Ambarawa! Nah, sesudah murid-murid memasuki grup basecamp Kabupaten Ambarawa, murid-murid disambut oleh beberapa visualisasi pemandangan dari Rawa Pening. Selain itu disajikan juga sebuah visualisasi penganan khas dari daerah ini, apa lagi kalau bukan serabi ngampin. Wow! Murid Cirro Cumulus sangat bersemangat dan mengetahui penganan apa itu, banyak dari mereka yang suka pernah memakannya bercerita rasa sukanya terhadap penganan yang khas akan cita rasa manisnya ini. Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah desa bernama Desa Kebondowo, Kabupaten Ambarawa. Desa ini terkenal akan kerajinan dari enceng gondok. Waktunya murid-murid melihat proses pembuatan kerajinan enceng gondok yeay! Para murid yang sudah menyimak saya minta untuk memberikan kode emoticon, inilah umpan balik selanjutnya. Banyak pertanyaan maupun ide keren yang tiba-tiba terlontar. Wah pas sekali dengan pertanyaan yang saya sematkan di padlet tentang produk khas Ambarawa ini. Murid-murid pun meluncur ke link padlet, menuliskan hal baru, solusi dan ide keren apa yang dapat murid Cirro cumulus sumbangkan untuk para pengrajin kerajinan enceng gondok ini. Bervariasi, dari mulai ide produk, pekerja bahkan pemasaran kerajinan tersebut. Saling memberikan umpan balik lewat apresiasi jawaban antar teman mewarnai perjalanan di Virtual Ambarawa, dan itu artinya kami harus melanjutkan ke basecamp WAG selanjutnya yaitu Kota Jepara. Jepara! kota ukirnya Jawa Tengah. Murid Cirro cumulus sampai di Desa Petekeyen, Kecamatan Tahunan. Sesampainya di sini, murid-murid langsung disuguhi dengan gambar-gambar keindahan ukiran Jepara yang sangat terkenal. Tidak hanya itu, kami juga mengunjungi dan berkenalan dengan Desa Troso yang tidak lain dan tidak bukan tentu saja desa pengrajin kain tenun Troso yang indah itu. Wah! kira-kira produk apa saja yang dapat dipadu-padankan dengan tenun torso ini ya? It’s time to drawing! Saya mengajak murid-murid berkreasi memakai aplikasi drawing island untuk menggambarkan produk bahkan desain yang dapat mereka kreasikan dari sebuah tenun Troso. Hasil dari teman-teman dikirimkan ke grup basecamp dan menakjubkan! Kami saling bergantian menyebut satu teman dan memberikan umpan balik serta apresiasi dari karyanya. Sepatu, tas, jam tangan, bahkan softcase handphone memenuhi ide-ide sederhana nan kreatif murid-murid. Jepara terasa sedekat ini! Dan tanpa berlama lagi, kami melanjutkan perjalanan ke basecamp WAG kota terakhir. Hallo Slawi, satu persatu murid-murid sudah memasuki kota yang terkenal akan teh pocinya ini. “Kak, tehku sudah siap. Aku teh hangat karena di sini habis hujan”, kata salah satu murid. “Oke, sebelum kita dengan teh yang sudah kita siapkan. Kita main sebentar yuk! “Eh ini basecamp terakhir ya? Oke Siap kak!” Permainan ini dimulai dengan murid menuliskan angka kesukaan masing-masing secara cepat ke chat grup. Di satu sisi, di kedua tangan saya sudah saya siapkan sebuah kertas yang bertuliskan angka kecil atau angka besar. Nah, setelah suara terbanyak diputuskan, maka disepakati dari angka terkecil yang akan memberi pertanyaan. Murid yang menjadi penanya pertama akan menunjuk nama teman yang akan menjawab. Murid yang menjawab tersebut akan memberikan pertanyaan dan menunjuk lagi teman untuk menjawab, dan begitu seterusnya. Kehebohan demi kehebohan terjadi, saling menyemangati, bahkan yang awalnya diam pun mendapat giliran berbicara. Umpan balik ini saya terapkan untuk mengukur apakah murid masih oke atau sudah tidak lagi oke. Jika oke maka next, jika tidak oke maka what’s next? Emoticon tertawa yang bertebaran menghiasi chat grup menghantarkan saya dan murid ke sesi minum teh virtual bersama. Saya meminta murid untuk mengirimkan foto teh yang mereka nikmati saat ini, kami me-review teh masing-masing serta bercerita tentang manfaat dari teh yang sudah kami cari tahu sebelumnya. Ada yang menggunakan voice note, chat, bahkan video dalam menunjukkan rasa bahagiannya minum teh virtual bersama hari ini. Bahkan ada yang memilih ingin membagikan temuannya lewat streamyard channel kelas dan minta dijadwalkan. Sembari menghabiskan tegukan demi tegukan teh, saya mengajak murid-murid untuk berefleksi mengenai perjalanannya di tiga kota ini. Hal baru apa yang mereka dapatkan? “Seru kayaknya kalau punya cafe, nah di dalamnya ada buku, hiasan dindingnya semua dari kain khas produk Indonesia, menu-menunya juga makanan khas Indonesia semua. Terus banyak ngadain acara deh buat memperkenalkan kalau produk Indonesia itu keren!” ucap salah satu murid. “Sering-sering pakai produk asli Indonesia ternyata berdampak besar ya buat masyarakat dan para pengrajinnya” ucap lagi lainnya. Setelah refleksi bersama, kami menutup Virtual Learning Journey ini dengan meninggalkan grup basecamp demi basecamp dan kembali ke grup utama. Doa bersama tak lupa menjadi penutup kelas kami hari ini. “Kak aku seneng! Next nanti boleh ke luar pulau ya, Kak. Pakai zoom juga dong kak?!” ucap murid sangat semangat. Masih ada satu lagi yang ingin saya berikan ke murid tentunya. Apalagi kalau bukan umpan balik berupa badge apreasiasi dan hal keren yang masing-masing murid lakukan. Badge dan apresiasi hal keren tersebut saya kirim ke wall grup untuk murid yang nyaman diapresiasi lewat wall namun, untuk murid yang merasa nyaman diapresiasi lewat japri maka saya akan japri. Dari kegiatan Virtual Learning Journey ini saya banyak belajar untuk mengkolaborasikan beberapa aplikasi yang dapat saya manfaatkan untuk membuat alur belajar makin membuat murid tergelitik, tentunya dengan kesepakatan dan panduan. Selain itu saya juga belajar bahwa umpan balik dan kata “journey” adalah sedekat nadi. Ya, umpan balik itu terjadi sepanjang sesi belajar, setiap 5 bahkan 10 menit sekali. Feedback : accepted/rejected dan begitu seterusnya. Dari sini pula saya dapat mengukur apakah murid masih dalam posisi tune in atau tidak. Jika oke maka next, jika tidak oke maka what’s next? Dan gongnya adalah apresiasi bermakna dimana bukan hanya tanda bahwa murid sudah melakukan hal keren namun juga kalimat pemantik berupa apa yang bisa menjadikan ke depannya lebih keren lagi. Murid yang awalnya sulit tergelitik, dengan journey feedback yang terjadi sepanjang proses akan menjadikan murid aktif dan menikmati pengalaman belajarnya. Teknologi dan umpan balik guru, kolaborasi yang romantis dalam menemani perjalanan belajar murid. Salam Merdeka Belajar!