Ular Tangga “Perjalanan ke Habasyah”

11 Dec 2020 | Inovasi Media Ajar dari Chadziqoh, MSI 14 Medono

Profil Murid : Murid kelas empat yang rata-rata berusia 9 tahun dan senang bermain.
Awal : Dalam mengajar mata pelajaran PAI, saya dituntut tidak hanya mengembangkan kompetensi pengetahuan, tetapi juga kompetensi keterampilan dan sikap murid. Demikian pula pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di kelas empat, murid diharapkan tidak hanya dapat memahami dan mengidentifikasi sebab-sebab dan peristiwa hijrahnya para sahabat Nabi Muhammad SAW ke Habasyah, melainkan juga memiliki kemauan untuk selalu berubah menuju kebaikan dan bersikap sabar dan tabah dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sebagai bentuk implementasi semangat hijrah para sahabat Rasulullah ke Habasyah.
Tantangan : Saya merasa kesulitan dalam memahamkan murid pada materi pembelajaran. Hal ini disebabkan murid-murid kelas empat di sekolah saya mayoritas aktif bergerak. Mereka sangat menggemari aktivitas bermain dan enggan untuk diajak melakukan aktivitas belajar formatif seperti baca tulis ataupun duduk tenang mendengarkan penjelasan dari guru. Mereka juga sangat menggemari aktivitas fisik untuk menyalurkan energi mereka, berlarian ke sana kemari sambil bersenda gurau. Hal ini dilakukan tidak hanya pada saat jam istirahat, tetapi juga saat jam belajar di kelas.
Aksi : Untuk mengatasi hal tersebut, saya membuat media pembelajaran berupa papan permainan ular tangga bertema hijrah ke Habasyah. Dalam hal ini, saya sedikit mengubah cara bermain ular tangga seperti yang biasa dimainkan oleh anak-anak. Murid-murid diminta untuk menjawab pertanyaan terlebih dahulu sebelum menjalankan pionnya. Pertanyaan-pertanyaan yang disediakan berupa pertanyaan tentang materi yang bersifat kontekstual yang memungkinkan mereka untuk tidak sekedar memahami, tetapi juga menganalisis materi pembelajaran tersebut dengan harapan mereka dapat mengambil pelajaran berupa sikap kemauan untuk berubah menjadi lebih baik dan bersikap sabar dan tabah dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sebagai bentuk implementasi semangat hijrah para sahabat Rasulullah ke Habasyah.
Murid-murid dituntut untuk menyimak dan memahami pertanyaan yang harus mereka jawab. Jika murid yang menjadi pemain berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat, maka dia boleh menjalankan pionnya sesuai dengan jumlah dadu yang dilempar sebelumnya. Dalam permainan ini juga saya memunculkan sosok wasit untuk memimpin permainan dan beberapa pendamping wasit untuk membantu wasit. Dari sini, murid-murid belajar tentang arti kerja sama dan saling menghormati, serta sportivitas dalam bermain ular tangga. Hasilnya, murid-murid belajar dengan gembira tanpa merasa terbebani. Sesekali mereka saling mengingatkan dengan aturan permainan yang telah disepakati, tidak boleh mengganggu kelompok lain yang sedang bermain dan bermain secara bergiliran. Wasit memiliki beberapa pendamping untuk membantunya membacakan soal dan mengoreksi jawaban pemain berdasarkan kunci jawaban yang telah disediakan. Hal ini untuk mencegah kebosanan pada murid yang menjadi wasit karena monoton membacakan soal, yang otomatis menuntutnya untuk memahami soal beserta jawaban, sehingga pada akhirnya akan memahamkannya dengan materi pelajaran. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang disediakan tidak monoton sesuai dengan bacaan, melainkan juga penalaran. Dengan cara ini, murid-murid akan mampu mencapai kompetensi dasar hingga tingkat analisis.
Pembelajaran : Dari sini, saya sebagai guru belajar bahwa belajar itu tidak melulu dengan cara membaca buku atau mendengarkan ceramah guru, melainkan juga dapat dilakukan melalui media pembelajaran berupa permainan papan, sehingga murid-murid dapat belajar dengan menyenangkan. Saya juga belajar bahwa model pembelajaran yang akan kita lakukan dengan anak-anak tidak boleh disamakan dengan model pembelajaran yang dilakukan guru kita. Sebagai seorang guru, harus mampu mengadaptasi model pembelajaran yang sudah ada, disesuaikan dengan kondisi yang sedang dihadapi.