Aplikasi Bilangan Bulat

11 Dec 2020 | Inovasi Media Ajar dari Negara Mangkubumi K, SMP Negeri 2 Sengkang

Media akan digunakan oleh siswa kelas VII SMP. Media ini dirancang untuk mata pelajaran matematika dengan topik Operasi Hitung Bilangan Bulat. Rata-rata usia mereka antara 12 – 14 tahun. Mereka merupakan native digital, sehingga gaya belajarnya pun lebih senang menggunakan gadget dalam beraktivitas. Secara emosional mereka masih labil karena adanya peralihan masa keremajaan sehingga masih membutuhkan pendampingan. Media ini dapat digunakan saat pembelajaran atau di luar pembelajaran
Media dibuat untuk memberikan pemahaman konsep bagi siswa terkait operasi hitung bilangan bulat. Karena selama ini, pembelajaran terkesan monoton dan acap kali hanya menggunakan text book. Kondisi seperti ini mengakibatkan siswa hanya sekedar menggugurkan kewajiban mengikuti pelajaran, dan sebagian besar tidak dapat menerima materi pelajaran dengan baik. Dengan status guru paling muda, saya merasa ada beban moril saat mengajar siswa. Semua guru di sekolah, mengharapkan ada perubahan dengan hadirnya saya di sekolah sebagai teman sejawat. Suatu ketika saat ditugasi untuk mengajar siswa kelas VII SMP, saya shock karena sebagian siswa belum memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Padahal materi tersebut sudah diajarkan sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Kejadian ini membuat saya bertanya-tanya, dan akhirnya sharing dengan guru matematika lain. Ternyata ini telah berlangsung dalam kurun beberapa terakhir. Bukan perkara mudah menghadapi permasalahan pembelajaran dalam kelas.
Saya pun dilema, dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan pendekatan kepada siswa dengan mengajak mereka berdiskusi ringan untuk menanyakan hal-hal yang mereka senangi dan inginkan pada pembelajaran matematika. Ada temuan menarik dari hasil survei dan wawancara itu, ternyata menurut penuturannya kalau siswa lebih senang belajar pakai handphone. Saya pun berinisiatif mengintegrasikan materi, simulasi, video, kuis, latihan, dan evaluasi menjadi satu kesatuan dalam aplikasi. Dengan demikian siswa dapat leluasa mempelajarinya kapan saja dan dimana saja karena mudah dibawa ke mana-mana.
Saya kemudian menggunakan aplikasi bilangan bulat pada pembelajaran. Pada tahapan pembelajaran, saya mengajukan pertanyaan atau masalah di awal pembelajaran. Pertanyaan atau masalah itu saya desain menjadi soal-soal tantangan. Tiap soal tantangan berbeda level kesulitannya, dan masing-masing kelompok diminta menyelesaikan keempat soal tantangan tersebut. Soal tantangan saya desain dalam bentuk lembar aktivitas siswa dengan memanfaatkan aplikasi bilangan bulat untuk menyelesaikannya. Tanpa lembar aktivitas siswa, maka secanggih apapun aplikasi yang kita buat tentunya media itu tidak akan menjadi optimal penggunaannya dalam pembelajaran.
Untungnya saya pernah mengikuti pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis android. Walau demikian dalam perjalanannya, saya terkendala pada bahasa script, karena keterbatasan skill yang notabene bukan background TIK. Dari hasil ujicoba kepada siswa, masih banyak kekurangan pada aplikasi yang telah saya buat. Saya sempat berpikir untuk menghentikan apa yang telah saya lakukan. Ketika niat kita tulus, tiba-tiba saja saya diberi solusi entah dari mana datangnya. Belajar dari youtube dan dibantu oleh teman yang cukup ekspert, akhirnya aplikasi bilangan bulat dapat selesai.
Secara perlahan telah merubah kondisi belajar menjadi menyenangkan. Anak-anak semakin termotivasi belajar matematika. Hasil belajar pun mengalami perubahan cukup baik. Saya menjadi sadar bahwa dengan berempati untuk mau melihat, merasakan, dan mendengar keluh kesah, keresahan, dan harapan siswa maka proses pembelajaran akan menjadi berbeda. Karena dengan langkah itu, artinya saya telah berani merubah midset agar memanusiakan anak dalam belajar, tidak egois dari sudut pandang saya sendiri tapi berbuat dalam perspektif sebagai siswa. Memang butuh proses agar benar-benar tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal dan menyentuh metakognitif siswa dalam pembelajaran, tapi proses itulah kelak akan menjadikan kita sebagai guru yang dirindukan siswa. Lakukan apa yang terbaik, biarkan keterbatasan kemampuan diri menjadi jalan pembeda untuk berbuat yang lebih baik dalam memberikan nuansa kelas yang bermakna bagi siswa demi menuai pembelajaran matematika yang menyenangkan.
Saya memberi waktu 40 menit mendiskusikannya. Selama dalam pantauan saya, seluruh siswa melakukan simulasi seperti petunjuk pada soal tantangan yang diberikan. Ada siswa mengatakan “yes” karena berhasil menyelesaikan soal tantangan, ada beberapa siswa terlihat berdebat dengan sesama teman kelompoknya. Ada juga siswa yang memberi penjelasan kepada teman kelompoknya yang belum memahami maksud soal sambil menunjukkan cara penyelesaiannya. Walau kesannya belajar tapi aktivitas penyelesaian soal tantangan membuat siswa terpacu adrenalinnya untuk sesegera mungkin menyelesaikannya dengan baik sebelum didahului oleh kelompok lain. Sungguh pemandangan yang unik dan menarik saat belajar matematika.