CEMITA (Cerita Matematika by Teacher Andri)

12 Dec 2020 | Inovasi Media Ajar dari Febriandrini K., ST., MIB, Lazuardi Al Falah Klaten

Dari peta empati yang saya lakukan, ada tiga jenis tantangan yang harus saya lampaui dalam mengajar matematika di masa pandemi ini. Tantangan pertama yang menghadang di setiap pembelajaran tatap maya adalah selalu ada kemungkinan tidak berjalan dengan mulus. Banyak kendala yang mempersulit kondisi, dari kondisi keluarga yang kadang tidak suportif dan kondusif, ketersediaan gawai yang sering harus dipakai bergantian, serta tidak meratanya jangkauan sinyal Internet. Saya harus bisa memberikan materi digital yang dibuka kembali oleh murid, dan yang bisa membuatnya lebih memahami tentang konsep matematika yang diajarkan. Tantangan lain yang saya alami adalah bagaimana membuat pembelajaran matematika tetap bermakna di tengah keterbatasan dan kesulitan yang kita hadapi. Salah satu materi yang sering dikeluhkan murid karena susah dimengerti adalah tentang gradien dalam pelajaran aljabar. Bukan hanya sekedar cara berhitung gradien dari sebuah garis lurus, tetapi bagaimana memakainya dalam keseharian. Saya juga tidak bisa lagi secara leluasa memberikan cerita matematika seperti yang sebelumnya. Konsep awal dari CEMITA adalah dalam bentuk audio, bukan video, karena bentuk video akan memakan kuota yang besar untuk menontonnya. Audio juga membuat saya bisa memberikan personalisasi dan mendekatkan hubungan dengan murid. Karena PJJ tidak bisa bertemu langsung, paling tidak suara saya bisa mewakilkan keberadaan saya di dekatnya. Tidak hanya itu, saya awalnya berpikir jika berbentuk audio, maka bisa disimpan dalam pemutar mp3 dengan energi dari panel surya yang tidak perlu listrik untuk mengoperasikan sehingga bisa disebarkan ke daerah-daerah pelosok. Murid bisa memutar tanpa harus terkoneksi dengan internet dan bisa mendengarkan cerita saya. Kemudian, dalam perkembangan desain panduan pembelajaran, saya mendapat masukan untuk memadukan audio tersebut dengan presentasi, sehingga murid bisa mendengar sambil melihat catatan dalam slide. Untuk murid di daerah terpencil, materi slide bisa dicetak dalam bentuk buku dan disebarkan dengan pemutar mp3. Saya membagi CEMITA dalam 5 bagian sesuai yang biasa saya lakukan di kelas, yaitu tahap engage (mengaitkan), explore (eksplorasi), explain (menjelaskan), elaborate (mendalami), serta evaluate (menilai atau melakukan refleksi) untuk materi gradien. Saya jelaskan apa tujuan pembelajaran dari setiap tahapan, sehingga murid bisa memutuskan untuk terus ke tahapan selanjutnya atau mengulangi kembali. Di sini saya menerapkan keberlanjutan pada proses pembelajaran, sehingga murid bisa mengatur secara mandiri, seberapa lama ia ingin belajar dalam sebuah tahapan, sebelum memutuskan untuk lanjut ke proses berikutnya. Dalam tahap mengaitkan, saya mengaitkan perubahan yang terjadi dalam waktu tertentu sebagai wujud dari gradien serta menjelaskan apa pentingnya memahami gradien. Topik besar yang saya ambil adalah tentang ketahanan pangan. Dalam panduan, saya jelaskan bahwa murid hanya memilih satu jenis harga pangan yang mereka sukai, atau yang menjadi khas daerahnya, serta mengamati harganya selama beberapa minggu. Tujuan akhir dari proyek adalah memberikan rekomendasi kepada keluarga atau masyarakat, bagaimana tren harga pangan dari jenis bahan pangan di masa mendatang, cenderung naik atau turun, serta apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan ketahanan keluarga. Murid pun bisa memilih sendiri dalam bentuk apa tugas diserahkan, baik dalam bentuk teks, slide presentasi, video, audio, dan lain-lain. Murid pun bisa melihat di rubrik penilaian, kriteria apa yang bisa membuatnya meraih nilai tertentu, dan apa saja yang dinilai. Di tahap evaluasi atau refleksi, saya memberikan pertanyaan-pertanyaan sejauh mana murid memahami panduan yang saya berikan dan apakah instruksi di dalamnya sudah cukup jelas. Saat saya uji coba CEMITA (bisa diakses ke bit.ly/CemitaGradien) ke pengguna dan mitra, saya mendapatkan umpan balik yang positif dan memberikan saya semangat. Beberapa umpan balik yang saya dapat adalah: “(Aku) tidak pernah berpikir bahwa gradien itu ternyata kaitannya dengan perubahan. Kalau tidak ada cerita ini (aku) hanya berpikir gradien itu hanya Y dibagi X saja.” “Waktu tahap eksplorasi, aku harus sering mengulang karena agak susah membayangkan. Ternyata, aku harus bergerak melakukan sesuai instruksi baru paham. Asyik ternyata” “Bicaranya agak lebih cepat sedikit mungkin, menurutku agak terlalu lambat, tapi isinya oke sih.” “Kalau bisa mungkin visual di slidenya dibuat lebih menarik dan interaktif.” “Ini suaranya kadang loncat-loncat dari slide ya” Saya pun bertanya, kalau ini dibuat belajar apa yang dirasakan oleh pengguna, rata-rata menyampaikan kalau cerita yang disampaikan serta kegiatannya bisa menggambarkan konsep dengan baik. Mereka jadi paham bahwa gradien bukan hanya sekedar simbol m yang diperoleh dengan menghitung y dibagi x.